Adhyaksa Dault merupakan suami dari Drg. Mira Arismunandar, sebelumnya pernah bekerja sebagai penasehat hukum. Namun kemudian melanjutkan pendidikan ke Program Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Dan selanjutnya berhasil meraih gelar Doktor (S3) Jurusan Teknik Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007.

Ayah dari Umar Adiputra Adhyaksa dan Fakhira Putri Maryam Adhyaksa ini dikenal aktif berorganisasi. Tahun 1987 sampai 1988, ia dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum USAKTI dan pada tahun yang sama ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) Korwil DKI Jakarta. Jabatan Ketua Lembaga Pengkajian Keadilan dan Demokrasi Indonesia (LPKDI) diamanahkan kepadanya dari tahun 1999 hingga 2002. Begitupun sebagai Ketua Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Jakarta diembannya dari tahun 1999 sampai 2004, Selanjut dia pernah juga dipercaya menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) tahun 1999 sampai 2002. Kemudian menjadi Ketua Umum Majelis Pemuda Indonesia (MPI) tahun 2003 sampai 2006. Disamping itu ia juga dipercaya sebagai Ketua Badan Pengawas YPI Al Azhar periode 2007-2012.

Pada tanggal 27 Agustus 2009, Adhyaksa Dault, yang waktu itu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera yang dipastikan terpilih dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah, mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum untuk mengajukan pengunduran diri sebagai calon legislator.

Setelah selesai menjalankan tugas sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Kabnet Indonesia bersatu Jilid 1 periode 2004 – 2009, Adhyaksa Dault mengabdikan dirinya kembali kepada dunia pendidikan dengan kembali mengajar sebagai Dosen Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai-Universitas Diponegoro dan menjadi Kandidat Guru Besar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro . Selain mengajar, tugas yang diemban Adhyaksa Dault menjadi Komisaris Independen PT.BRI.Tbk, sejak tahun 2010 sampai sekarang. Di sela-sela kesibukannya, Adhyaksa Dault juga beraktivitas sebagai Ketua Umum VANAPRASTHA, yaitu suatu wadah dari para Penggiat Alam Terbuka dan Aktivis Lingkungan yang berdiri sejak 1976. Dan salah satu program yang merupakan ide kreatif seorang Adhyaksa Dault sebagai penggiat alam terbuka dan Aktivis lingkungan dimana sampai sekarang program tersebut masih berlangsung adalah PIP3D ( Promosi Indonesia Pada – Pada Puncak Dunia). Program ini memadukan berbagai macam unsur kegiatan seperti Ekspedisi Pendakian, Touring Sepeda, Talkshow dan Dialog Interaktif sambil mempromosikan pariwisata Indonesia di manca negara. Pada tahun 2011 kemarin Adhyaksa Dault beserta team yang dipimpinnya berhasil melakukan Ekspedisi Pendakian di Mount Blanc – Prancis, touring sepeda mengelilingi sebagian Eropa Barat serta melakukan Talk show dan dialog interaktif di 2 Negara Eropa, Prancis dan Belanda.

Pendidikan

Adhyaksa memandang pendidikan salah satu sarana untuk memajukan bangsa. Bangsa yang maju tentulah bangsa yang berpendidikan, meski tak selalu berarti formal. Terpanggil untuk menjadi bagian dari pendidik bangsa, Adhyaksa menyadari harus terlebih dahulu mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Adhyaksa tak pernah merasa kenyang dengan ilmu. Ia pun melanjutkan pendidikan di Program Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Selanjutnya, gelar doktor berhasil beliau sabet dari Jurusan Teknik Kelautan Institut Pertanian Bogor tahun 2007.

Di sela-sela kesibukan yang begitu padat, Adhyaksa Dault menyempatkan waktu untuk mengabdikan diri di  dunia pendidikan sebagai dosen S2 di Universitas Negeri Jakarta dan dosen Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro. Bahkan menjadi kandidat guru besar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Belajar dan mengajar adalah nyawa orang yang hidup. Selagi hayat masih dikandung badan, kewajiban yang satu ini tidak akan berhenti dilaksanakan.

Pengalaman

Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 7 Juni 1963 punya pengalaman menjadi penasehat hukum. Bahkan inilah yang mengawali karir seorang Adhyaksa. Baginya, hukum adalah sesuatu yang harus dijunjung. Penegakan hukum harus diperjuangkan agar benar-benar tegak keadilan dan menanglah kebenaran. Inilah yang mendasari beliau terjun di dunia hukum. Dan, karena beliau adalah sarjana hukum dari Universitas Trisaksi

Adhyaksa Dault memahami bahwa kematangan seorang pemimpin bangsa dipengaruhi oleh pengalamannya dalam berorganisasi. Organisasi adalah wahana untuk memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Hal ini sudah disadari betul oleh seorang Adhyaksa muda. Maka ia pun dikenal aktif berorganisasi sejak masih menjadi mahasiswa. Tahun 1987 hingga 1988, dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum USAKTI dan Ketua Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) Korwil DKI Jakarta. Jabatan Ketua Lembaga Pengkajian Keadilan dan Demokrasi Indonesia (LPKDI) diamanahkan kepadanya dari tahun 1999 hingga 2002. Ketua Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Jakarta diembannya dari tahun 1999 sampai 2004. Tahun 1999 sampai 2002 menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI). Ketua Umum Majelis Pemuda Indonesia (MPI) tahun 2003 sampai 2006. Dan, masih banyak lagi pengalaman lainnya. Semuanya berperan mendewasakan dan mematangkan Adhyaksa muda untuk kemudian menjadi pemimpin bangsa yang mumpuni, seperti yang telah dibuktikan ketika menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Indonesia memerlukan pemimpin pilihan yang berjiwa ksatria, berbudi luhur dan mengabdi untuk kepentingan bangsa.

Bukan Adhyaksa Dault namanya kalau tidak berkecimpung dalam aktivitas yang sarat dengan kegiatan kaum muda. Bahkan boleh dikata, beliau adalah salah satu komandannya. Terhitung sejak 5 Desember 2013 Adhyaksa mendapatkan amanah sebagai Ketua Kwartir Nasional Pramuka periode 2013-2018, melalui Musyawarah Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Ini adalah amanah baru yang diembannya setelah tak lagi menjadi menteri. Karakternya yang energik, semangat dan dinamis memang sangat sesuai untuk menangani kepramukaan Indonesia. Berbagai gebrakan dan pembaruan pun beliau jalankan demi membangun karakter bangsa melalui kiprah pramuka. “Kami mau rebranding pramuka. Pramuka selama ini terkesan rutinitas dan tradisional,” katanya. Kebanyakan orang tahu pramuka hanya tentang bajunya saja. Rebranding pramuka diharapkan bisa menjangkau anak-anak remaja, khususnya yang masih berada di bangku sekolah, agar lebih berperan melindungi generasi muda dari pengaruh negatif keterbukaan informasi. Oleh karena itu, pramuka harus dapat memainkan peran yang semestinya serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan karakter bangsa.

Dalam memainkan setiap peran yang dijalankannya, Adhyaksa beranggapan bahwa status yang dipercayakan kepadanya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Bukan hanya di hadapan manusia, namun yang lebih penting lagi di hadapan Allah SWT. Prinsip yang selalu dijaganya adalah bahwa menjalankan setiap amanah harus dengan ikhlas. Tanpa pamrih dan tanpa mempersoalkan resiko yang harus dihadapinya. Prinsip seperti ini sudah sejak dahulu ditanamkan oleh keluarganya. Ayahnya, HM Dault banyak menanamkan kepada Adhyaksa kecil agar senantiasa peka terhadap masalah kemanusiaan, kemasyarakatan, dan keumatan.

Kepribadian Adhyaksa Dault ini memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap perkembangan karirnya dan dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan kepadanya. Semasa menjadi Menegpora, banyak kontribusi yang diberikan bagi perkembangan kepemudaan dan olah raga Indonesia.  Banyak konsep dan gagasan  tentang kebangsaan termasuk konsep mengenai kepemudaan, keolahragaan, dan sosial kemasyarakatan yang lahir dari beliau. Pada masa kepemimpinannya pula usaha memajukan olahraga nasional terus dilakukan, di antaranya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet yang berprestasi. Tidak hanya memberikan bonus uang, tapi juga menyediakan rumah dan pekerjaan.

Selama menjadi menteri, Adhyaksa terpilih sebagai “Tokoh Pemuda Terpopuler 2007” oleh polling Reform Institute. Popularitasnya ini merupakan dampak dari kinerjanya yang luar biasa. Adhyaksa dinilai oleh publik (responden) mampu menunjukkan kualitasnya di lingkungan birokrasi sebagai menteri yang mampu menggerakkan pembangunan kepemudaan dan keolahragaan di Indonesia.

Dunia ekonomi juga menjadi perhatian Adhyaksa. Menurutnya, ekonomi merupakan bagian dari pilar kehidupan dan salah satu indikasi kemakmuran. Sistem perekonomian yang benar akan berdampak pada kesejahteraan, sedangkan sistem perkonomian yang bobrok akan membawa kesengsaraan. Kecukupan akan menenteramkan, sedangkan kemiskinan lebih dekat kepada kekufuran. Pandangan, pengetahuan, wawasan serta pengalaman di bidang ekonomi menjadikannya dipercaya menjadi komisaris independen PT Bank BRI Tbk. sejak 2010 hingga sekarang.

Dari berbagai dimensi pembangunan, baginya hal terpenting untuk dibangun adalah spiritual dan moral; aqidah dan akhlak. Inilah sesungguhnya pilar paling mendasar bagi pembangunan suatu bangsa. Di atasnya barulah bisa dibangun berbagai dimensi lainnya sebagai pelengkap atau penyempurna. Makanya, Adhyaksa sejak muda sudah aktif di bidang dakwah, serta akrab dengan kajian dan pengajian. Bahkan beliau sendiri sebenarnya adalah ustadz yang aktif berceramah dan mengisi khutbah di mana-mana.

Melihat kiprahnya yang luar biasa dalam berbagai bidang yang digeluti sejak muda hingga sekarang ini, Indonesia tampaknya masih terus membutuhkan peran yang lebih besar lagi dari sosok seorang Adhyaksa. Bagi seorang pejuang yang beriman, jabatan atau kekuasaan sesungguhnya adalah panggilan nurani, bukan ambisi. Dan pada akhirnya merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Meski tidak ada ambisi, bagaimana pun jabatan dan kekuasaan sangatlah penting sebagai sarana untuk memasifkan segala bentuk kebaikan.

RIWAYAT KEPELATIHAN DAN KEGIATAN

  • Penataran P4 Pola 110 Jam Universitas Indonesia tahun 1993.
  • Pelatihan Utama Program Keluarga Berencana (PK2M) kerjasama BKKBN dengan Pemuda AL-Azhar Jakarta.
  • Penyuluh Hukum Tingkat Nasional Program PenataranPenyuluhHukum Tingkat Nasional oleh Lembaga PenyuluhanHukum DPP KNPI 1988.
  • Peserta Penataran Kewaspadaan Nasional (TARPADNAS) Tingkat Nasional Angkatan V Program kerjasama LEMHANAS dengan Kantor MENPORA, tahun 1980
  • Mewakili Pemuda Indonesia dalam Youth Sea Festival di Seoul, Korea Selatan tahun 1993
  • Mewakili Pemuda Indonesia dalam Studi Perbandingan Ekonomi di Filipina tahun 1993
  • Mewakili Pemuda Indonesia dalam Studi Banding Masalah Ketenagakerjaan di Arab Saudi, Yaman, Jordania dan beberapa Negara Timur Tengah tahun 1995
  • Mewakili Pemuda Indonesia dalam Forum Pemuda Tingkat Dunia di Malaysia tahun 2000

Karya Tulis.

  • Bunga Rampai “Mengembalikan Ruh Kecendekiawanan Kaum Muda”,  tahun 1996.
  • Kumpulan Essay yang dimuat di Harian Umum Media Indonesia tahun 1997.
  • Perkelahian Pelajar dan Upaya Penanggulangannya,  tahun 1997
  • Pengaruh Kepemimpinan Kiai Pesantren terhadap Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan, tahun 1998.
  • Tulisan di beberapa Harian Umum Ibukota.
  • Islam & Nasionalisme “Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks Nasional,   tahun 2003.
  • “Pemuda dan Kelautan” tahun 2008

Kirim Komentar

Agenda Kegiatan

No results found.

FACEBOOK

Twitter

adhyaksadault.info-kartun adhyaksa Olah Raga 3
Read previous post:
Mubalig Betawi Dukung Adhyaksa Dault Maju Pilgub DKI

JAKARTA - Sejumlah ulama dan tokoh pemuda menyatakan dukungan untuk Adhyaksa Dault maju Pilgub DKI 2017. Ada kisah menarik sebelum...

Close