LOMBOK – Para korban gempa Lombok mengapresiasi dan berterima kasih kepada Gerakan Pramuka atas segala perhatian dan bantuan yang diberikan. Seru Nuraidah, misalnya, mengucapkan terima kasih karena telah diberikan bantuan berupa tongkat penyangga tubuh.

“Saya mengalami patah tulang karena gempa. Terima kasih Pramuka Peduli atas bantuannya,” ujar Seru Nuraidah, bocah 11 tahun dari Karanganyar, Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Rabu (12/9/2018).

Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka Urusan Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana (Abdimasgana), Eko Sulistio menjelaskan, pihaknya telah memberikan 10 tongkat penyangga tubuh kepada para korban gempa Lombok. Pihaknya juga telah membangun rumah darurat berukuran 3 X 4 meter untuk mereka.

“Kami bahagia sekali dikasih rumah sama Bapak-bapak Pramuka ini. Kita bersyukur sekali dikasih rumah ini. Terima kasih Pramuka,” ujar Leni di Lombok. Rumah darurat itu ditempatinya bersama keluarganya.

Eko Sulistio menambahkan, pihaknya ingin membangun 1000 rumah darurat untuk korban gempa Lombok. Karena terkendala masalah dana dan tenaga relawan dari Pramuka, pihaknya baru bisa membuat 7 rumah darurat.

“Untuk membangun hunian sementara atau rumah darurat ini membutuhkan waktu 3 jam dan menghabiskan dana sekitar Rp3 juta. Jika ada yang bisa membantu, kami sangat senang, karena keinginan kami bisa bangun 1000 rumah darurat,” ungkapnya.

Eko mengajak masyarakat dan anggota Gerakan Pramuka di mana pun berada agar tidak berhenti membantu. Warga korban gempa Lombok sangat membutuhkan uluran tangan semua pihak, utamanya dalam upaya recovery.

Andalan Nasional Urusan Abdimasgana ini dibantu oleh 12 relawan dari Ubaloka Kwarda Jawa Tengah, 7 relawan dari Kwarcab Kota Bekasi, 4 relawan dari Cijantung Jakarta Timur, 2 relawan Kwarcab Jakarta Barat, dan sekitar 20 relawan dari Kwarcab Lombok Utara. Mereka tiada henti membangun rumah-rumah darurat dan fasilitas lainnya.

Selain rumah darurat, pihaknya telah membangun sekolah darurat, masjid sementara, MCK darurat, tongkat penyanggah tubuh untuk korban patah tulang dan kursi roda untuk korban yang sedang pemulihan patah tulang. Pihaknya juga telah membangun pipa air dengan 4 km dan 5 km dari sumber mata air ke rumah warga tiga dusun, di Celebung, Kabupaten Lombok Utara.

Sekolah darurat yang dibangun tersebut terletak di SDN 3 Bentek, Dusun Selelos, Desa Persiapan Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Ruang sekolah darurat untuk anak-anak korban gempa Lombok ini terbuat dari tenda pleton ukuran 4 X 12 meter. Sekolah darurat itu memiliki 11 guru dan 126 murid.

“Terima kasih kakak-kakak Pramuka. Karena Pramuka Peduli kami bisa sekolah lagi,” kata Budi, salah satu siswa di sekolah darurat.

Kwarnas Gerakan Pramuka dalam periode kepemimpinan Adhyaksa Dault bukan kali ini saja memberikan bantuan kepada korban gempa Lombok. Sebelumnya, 50 lebih solar cell dan sejumlah bantuan lainnya seperti terpal, tenda, dan bahan-bahan makanan diberikan.

Eko bersama para relawan dari Gerakan Pramuka telah membuka Pos Bantuan Pramuka Peduli yang telah dibangunnya sejak Senin, 6 Agustus 2018 lalu. “Pos Bantuan Pramuka Peduli kita sudah terdaftar di BNPB. Masyarakat Lombok yang terkena gempa membutuhkan bantuan, membutuhkan recovery yang cukup panjang,” tutup Eko. (MSA/AK)

Kirim Komentar

Agenda Kegiatan

No results found.

FACEBOOK

Twitter

adhyaksadault.info-kartun adhyaksa Olah Raga 3
Read previous post:
Basarnas: Pramuka Mitra Utama Kami

BOGOR - Komitmen Pramuka dalam penanganan bencana memang sudah diakui berbagai pihak. Pasalnya, Pramuka dinilai memilik kemampuan tidak kalah hebat...

Close